Monday, March 31, 2014

Di Simpang Jalan


Sejujur nya saya sedang bingung seperti orang di tengah persimpangan itu. Ditengah-tengah usaha saya menamatkan studi saya tiba-tiba muncul pikiran 'Oke, lulus. Terus mau jadi apa? Udah tau mau kemana?'. Jujur sebagai mahasiswa tingkat akhir ini pertanyaan yang amat sangat filosofis. Hahaha. 

Jadi gini kenapa saya bingung nya, saya sekarang masih kuliah di jurusan Ilmu Kelautan. Sebuah jurusan yang anti-mainstream sekali bukan. Mungkin kalau saya anak Komunikasi, Ekonomi, Manajemen dan berbagai jurusan lain nya yang lebih banyak orang kenal tentu saya tidak akan terlalu bingung. Ya jelas setiap tahun nya banyak perusahaan buka lowongan untuk jurusan  mainstream tersebut. Tidak ada maksud mengkotak-kotakkan jurusan ini istilah yang saya buat sendiri. Sementara bagaimana dengan jurusan saya sendiri?

Cukuplah idealisme yang ditanamkan selama kuliah tentang pekerjaan yang harus selalu berhubungan dengan apa yang kita pelajari selama kuliah ini. Cukup. Sudah banyak saya melihat idealisme yang mentok dengan sesuatu yang dinamakan kenyataan. Banyak teman-teman saya yang lulus lalu kemudian bingung dengan gelar yang di punya. Sementara itu tentu tidak ada yang peduli bukan dengan kebingungan itu, yang ada cuma tuntutan untuk segera mandiri dan bisa cari makan sendiri. Famiiliar guys? Iya, terimakasih. 

Kadang saya iri dengan gajah. Gajah kecil tidak butuh waktu lama untuk segera mandiri dan bisa hidup sendiri tanpa bantuan induknya. Gajah tidak perlu edukasi dengan tau segala macam hal. Yang iya perlu tau adalah dimana dia bisa mencari makan dan bagaimana menghindari predator. Manusia juga seperti itu bukan, yang terpenting dari segala hal agar tidak lapar dan tidak mati termangsa, maka manusia harus survive, survive dengan bekerja, pekerjaan didapat setelah melalui tahapan edukasi dan berulang-ulang terus entah sampai kapan. Saya memuji yang menemukan sistem ini, well done sir. 

Apakah saya merasa salah masuk jurusan? Awalnya iya. Saya punya kesempatan masuk kampus negeri lainnya yg 180 derajat berbeda dengan oseanografi. Tapi apa saya berhenti? Tidak. Saya kira saya sudah terlanjur jatuh ke dalam lubang ini, lubang yang ternyata diisi air laut, so dibanding harus merangkak menuju tepip lalu bangun dan keluar dari lubang, kenapa ga sekalian saya belajar berenang, menyelam dan menikmati lobang itu, toh kita tidak pernah tau ketika sudah keluar dari lubang kita tidak akan terperosok ke lubang-lubang lainnya. Dan ternyata makin lama ternyata saya makin suka dan tidak lagi merasa salah jurusan. 

Saya rasa kebanyakan dari anak-anak SMA sekarang, bahkan ketika jaman saya dulu, kita masih belum tau apa yang benar-benar kita mau apa. Mau jadi apa kita? Mau karir di bidang apa? Bahkan sampai sekarang saya masih tidak tahu saya mau jadi apa. Kita terlalu terbebani oleh perintah orangtua, mungkin. Dari hal yang simpel aja, ketika SMA dan memilih jurusan pasti jurusan IPA bakal lebih laku dibanding jurusan IPS. Coba aja tengok sendiri deh, kelas IPA pasti lebih banyak daripada kelas IPS. Kenapa sih emang? Apakah dengan masuk IPA menjamin kalau kita lebih pintar dari anak IPS. Tidak  juga. Bahkan kadang di akhir ada anak IPA yang akhirnya masuk kuliah IPS. 

Oh, saya terdengar seperti anak SMA saja ya.

Jujur saja, dulu sewaktu SMA saya sudah meniatkan niat saya untuk masuk IPS dan bukan IPA, toh hasil psikotes, yang entah penilaian nya masih valid atau tidak itu, saya terbukti anak IPS banget. Saya sudah memproyeksikan hidup saya bakal menuju kemana. Saya suka sastra. Saya suka menulis. Saya tidak terlalu suka berjibaku dengan rumus-rumus dan konstanta eksak itu. Saya mau masuk sastra, sejarah, komunikasi atau psikologi. Saya mau berkarir sebagai jurnalis, psikolog ataupun orang yang bergerak di dibidang komunikasi lain nya. Lalu? Ya orangtua saya lalu menyuruh saya masuk IPA saja tanpa tahu kalau saya sebenernya malas. Dan saya gak tidak bisa apa-apa, melawan nanti dibilang durhaka. Padahal untuk apa sih mereka menyuruh saya masuk IPA? Untuk membanggakan di depan orang taua lain nya kalau saya bisa masuk IPA. Tapi kan yang jalanin saya. Saya gamau dijadikan hanya sebagai bahan pamer. Ah, sudahlah andai saya melawan waktu itu, takdir akan berkata lain. 

Gak ada gunanya juga menyesali keputusan yang lalu bukan. Life is simple, you make choice and don't look back. 

Saya tahu, ada kok pekerjaan yang menampung para sarjana kelautan. 
Tapi sebenernya apakah kita benar-benar mau kerja?
We don't want to work, we just want the money. 
Ya mau gimana lagi yah, that's how life work, you want a money, get a job and stop whining. 

Andai saja banyak orang Indonesia yang mempunyai pikiran bahwa tolak ukur kesuksesan bukan hanya uang, tapi pencapaian. Saya mendapatkan banyak inspirasi dari buku yang NASIONALISME yang ditulis oleh Pandji, kalo sempat bacalah.

Ini bukan tentang idealisme kerja sesuai dengan bidang yang kita pelajari, ini adalah lebih ke apa sih yang kita inginkan buat hidup kita. Nasib kita ada di tangan kita sendiri bukan di tangan orang lain. Ingat, kita masih bisa kok jadi apa yang kita mau. Asal ada usaha dan jelas tidak mudah
  
Sudahkah kamu tau mau jadi seperti apa?
Kalau sudah apakah kamu sudah di jalan itu?
Atau kenyataan dan kebutuhan akan uang sudah menghampiri kamu? 

Life is cruel, indeed.
Semoga masih ada waktu untuk saya sendiri menentukan ingin jadi orang seperti apa saya ini.

(Ditulis untuk sekedar intermezzo pikiran dari bab 4 pembahasan skripsi)       

Tuesday, March 18, 2014

Let It Be

Mungkin dari semua lagunya The Beatles, gw punya beberapa track favorit dan track ini adalah salah satunya. Iya, Let It Be. Let It Be sendiri merupakan single dari The Beatles dari album yang sama yang dikeluarkan kuartet legendaris tahun 1970. Iya, 1970 berarti 34 tahun yang lalu dan gw masih dengan amat senang sering menandungkan nya. Mungkin sampai nanti tahun 3057 juga, masih ada yang dengerin The Beatles. Legends.

Aslinya, lagu ini sih ditulis sama Paul pas dia abis mimpi ketemu almarhum ibunya yang meninggal gara-gara cancer. Dan 'Mother Mary' disini pun tidak direferensikan dengan injil atau agama lain, tapi ya Mother Mary ini merupakan interpretasi McCartney untuk ibunya. Tapi kata Paul lagi, silahkan menginterpretasikan lagu ini sesuai selera masing-masing. Baiklah Paul, mari kita coba!
When I find myself in times of trouble, Mother Mary comes to rescue me. 
Speaking word of wisdom, let it be... 
And in my hour of darkness, she is standing right in front of me. 
Speaking word of wisdom, let it be...
Kadang, dikala kita lagi banyak cobaan hidup, pernah nggak sih berharap bakal dateng seseorang yang selalu ada buat kita buat nasihatin kita dengan bijak? Disini sih  gw menginterpretasikan nya ya emang tentang Ibu. Ketika lagi bener-bener stuck dan ga ada lagi orang untuk mengadu (masih ada Tuhan sih, klo udah stuck banget :p), selalu ada ibu yang jadi tempat terakhir buat lu untuk cerita semua nya. Pasti semua orang pernah kejadian deh kaya gini.

And when the broken hearted people, living in the wold agree. 
There will be an answer, let it be... 
For though they may be parted, there is still a chance that they will see
There will be an answer, let it be...
Waini, bagian ini sih buat orang-orang patah hati. Hahahha. Kadang kita harus tahu, kapan kita harus bener-bener pisah dan yeah go on living, life goes on. Walaupun kadang masih ada sedikit kesempatan, a slight chance, yang ada ke depan nya, percayalah suatu saat bakal ada jawaban nya. Biarlah. Live with it and let go.
And when the night is cloudy, there is still a light that shines on me 
Shine on until tomorrow, let it be... 
I wake up to the sound of music, Mother Mary comes to me 
Speaking words of wisdom, let it be...
Karena percayalah, suatu saat bakal ada cahaya yang akan bersinar terang yang akan selalu menerangi terus untuk besok dan hari-hari berikut nya. Biarlah cahaya nya terus menyinar. Sampai  nanti ketika lu terbangun ditemani suara musik ciamik. Bukankah perlu sebuah malam yang kelam untuk menyambut pagi yang terang dan menyegarkan.

(Gw mau muntah baca paragraf diatas hahaha)

Itu aja sih sebenernya lirik nya, sisanya reffrain dimana cuma teriak let it be dan let it be. Relakan dan biarkan. Lagu ini sangat menyihir dari denting piano pertama sampai ditengah ketika mulai masuk instrumen lain nya apalagi ketika selesai reff pertama dimana ada suara syntheizer lalu disusul dengan melodi gitar dari George yang membuai. Mendengarkan nya sambil menutup mata, sambil mendengar John dan Paul menasihati kita untuk merelakan. Biarlah. Let It Be. Ada sebuah pesan untuk merelakan dengan lega suatu masalah.

Huaah salah satu lagu pendamai untuk diri sendiri.
Ini gw mencoba untuk meng-cover dengan suara seadanya dan kemampuan gitar yang seadanya pula :p. Kali berkenan untuk mendengarkan.

Let It Be, Let It Be!

Saturday, March 8, 2014

Jam Tangan


Mari bercerita. Saya sedang tidak mau sok keren dengan menggunakan bahasa Inggris. Mari perkaya diksi.
 


Jam tangan. 
Dia selalu terpasang di pergelangan tangan kiri ku dengan erat. Ku bawa pergi kemanapun. Tidak, jam ini bukan jam mahal berlapis emas, kawan. Ini hanya jam biasa yang harga nya paling mungkin untuk ku jangkau. Orang bilang kita harus terbiasa dahulu sebelum menyatu satu sama lain. Begitu pula aku dan jam tangan ku. Hampir 5 bulan jam ini ku beli, kupakai setiap hari bahkan kadang aku lupa melepas nya sewaktu melepas lelah. Aku hafal bau keringat yang seringkali kuendus tiap kali ku lepaskan ia dari kulitku. 

Tangan kiri ku terasa lebih ringan. Ah, aku lupa memakai nya kali ini. Bukan masalah besar sebenarnya, tapi tetap mengangguku. Aku sudah terbiasa. Biasa tangan kiri ku lebih berat beberapa gram dari pergelangan tangan kanan ku. Biasa melihat sekarang pukul berapa tanpa harus menanyakan atau melihat sekeliling mencari tahu. Biasa mengendus bau keringat ku tepat setelah melepas sang jam dari kulitku.  

Iya aku hanya lupa. Aku hanya tidak terbiasa jika ia tidak ada. Bagi sebagian orang mungkin ini adalah hal yang amat sangat tidak penting. Tapi buat ku penting. Jam ini sudah jadi bagian dariku. 

Kali ini mungkin aku hanya lupa tidak memakainya. Bagaimana jika aku kehilangan nya? Bukan, bukan aku tidak mau mengganti nya dengan yang baru. Tapi aku terlalu malas untuk beradaptasi dengan jam baru. Bagaimana kalau ia ternyata tidak cocok dengan kulitku yang kering? Bagaimana kalau ia tiba-tiba berhenti bekerja karena aku yang terlalu sering berada di bawah terik? Memikirkan nya saja aku sudah malas. 

Aku mungkin bukan penyimpan yang baik. Banyak hal tak beraturan yang malas untuk ku tata. Baik itu di kamarku atau pun di hidupku. Dan mungkin jam ini bukan jam terbaik. Dia juga bukan jam termahal. Tapi aku merasa kita pas satu sama lain. Aku bahkan sampai sekarang belum tau bagaimana mengatur jam ini 10 menit lebih maju dari waktu biasa.

Aku ingin mengutip Paulo Coelho, dia berkata "Tak ada satu hal pun yang sia-sia. Bahkan jam mati pun menunjukkan waktu yg tepat dua kali sehari". Aku setuju. Tapi jam ku bukan jam dengan jarum. Jam ku hanya menampilkan angka secara digital dan numerik untuk menunjukkan.              
Tidak, jam ku tidak hilang. Dia masih ada. Tapi kali ini dia tidak berfungsi. Entah. Hanya kosong yang dia tampilkan. Tak ada jarum. Coelho pasti hanya punya jam analog dengan 3 jarum jam. 

Biarlah. Bukan kah sudah kubilang aku telah terbiasa dengan ada nya ia di pergelangan tangan kiriku? Mungkin sekarang dia sedang tidak berfungsi, tapi setidak nya dia masih tetap ada. Walau kadang ku pikir tak ada guna juga kupakai. 

Sampai nanti saatnya ketika memang harus mencari jam baru atau membawa jam ini ke pusat reparasi. Biarlah saja ia begini. Masih ada walau hanya menunjukkan satu hal. Kosong. 

Sunday, January 12, 2014

The Longest Road of Argopuro


Halo. Akhirnya bisa selamat juga nyampe ke ibukota setelah selama kurang lebih 6 hari di “diklat” oleh alam di Argopuro. Argopuro? Paan tuh? Itu gunung bro, lo jangan tau nya gunung cuman Semeru, Merapi atau Bromo aja. Kita kan tinggal di Indonesia, yang punya deretan pegunungan aktif karena masuk dalam kawasan Ring of Fire alias cincin api. Tapi tenang aja, Argopuro ini katanya udah gak aktif lagi.

Terletak hampir di ujung timur pulau Jawa, kota yang paing deket dengan gunung ini ya Probolinggo. Emang kurang ngetop sih yah gunung ini kalo dibandingin gunung-gunung yang udah ngetop lain nya.  Tapi kalo ada temen-temen lo yang anak pecinta alam, pasti familiar sama nama ini. yoih broo, kata nya sih, entah gw gatau cara ngukur nya begimana, Argopuro ini punya jalur trekking paling panjaaang se-Jawa. Dan yah ini true story. Panjang banget brooo emang.
           
Perjalanan di mulai dari tanggal 26 Januari kemaren dan prepare nya cukup singkat palingan ga ada 5 hari buat prepare barang-barang. Karena kita yang mau naik terdiri dari anak2 aneh yang kuliah di luar Jakarta dan beda2 kampus, jadi rada susah pengkondisian nya. Walhasil rumah gw jadi basecamp dadakan selama beberapa hari sebelum berangkat, yang karena letak nya strategis karena dari rumah gw banyak angkutan umum yang hampir bisa kemanain aja. Kebayoran Lama gitu loh. Kalo di stiker angkot tulisan gaul nya “By Your Run” :p .

Prepare barang2 udah,  briefing  awal buat liat medan juga udah. Trip kali ini diangkat lah seorang PO (PO-PO an sih ini mah) mas Pras, Kimia UGM 09, jomblo baru putus #lah #salahfokus #dikeplakpras. Dari awal dijelasin rute nya gw sih no comment, cuma ludah naik turun aja nih di kerongkongan, gilee jauh book total hampir 40 km. Tapi gw optimis bisa aja, walaupun jogging nya masih bolong2 sebelum naik. Total kita naik ber 17 orang.  Dari Jakarta yang berangkat ada gw, Iwan, Edit, Pras, Ilham, Baron, Puty, Mala, Yuda, Fikri, Mifta, Faruq, Hadi. Sisanya ada Bedus yang udah nunggu di Malang terus ada satu temen nya Fikri si Haris terus ketemuan lagi sama temen nya Pras, Aldi dan Remon di Probolinggo.

Stasiun Senen, Berangcuy!

Tanggal 25, berangkat lah kita. Tujuan awal : Malang, naik : Matarmaja. Ya MATARMAJA. Kereta sinting dengan jarak tempuh Jakarta-Malang yang kurang lebih 20 jam. Yah namanya mahasiswa, kereta Ekonomi lah solusi nya. Cuma 51 ribu saja nyampe Malang broo hahaha. Untung sekarang matar ga sekejam dulu yang duduk aja susah. Sekarang udah pasti dapet tempat duduk asal mesen nya dari jauh-jauh hari. Dan karena ini perjalanan jarak jauh, 20 jam man. We got some time to kill. Ya dari ngobrol ngalor ngidul, foto2 ga jelas, baca buku dan main TTS. Yah apapun itu lah untuk mengusir kebosanan di kereta.


Dan percayalah pemandangan pagi hari ketika kamu di kereta itu juara banget. Kalo gak salah pagi itu kita udah sampai di Blitar or somewhere in East Java. Here’s some pic :

  
Ya tapi karena gw punya entah ini sindrom atau apa yaitu ga bisa tidur cepet kalo lagi di perjalanan, kecuali kalo minum antimo :p, I never get that morning golden hour. Sejujur nya this is me in that morning:

   
Yeah, I know i do not sleeping beauty J.

Cobaan pertama, 20 jam di atas besi bergerak itu, sukses. Sampai lah di kota Malang. Kota dengan guilty pleasure terbesar di hidup gw. Fyi, dulu gw juga keterima sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya, Fakultas Ilmu Administrasi, Administrasi Publik. Sayang karena beberapa pertimbangan, nyokap nyuruh untuk kuliah di Kelautan UNPAD aja, ya bisa apa. Makanya kadang kalo ke Malang masih suka ada pikiran “Anjirr, harusnya gw kuliah disini nih” tapi yaudah lah, sekarang di Jatinangor juga i have a good life, good friends and other good things :D.


 Di Malang, cuma transit bentar di kontrakan nya anak2 47 yang kuliah di Malang, namanya KOMAN, Kontrakan Mantap dengan bapak kostan, Bedus J. Kita Cuma nyari beberapa bahan yang harus dicari kaya parafin, sayur dan lain-lain nya. Sekalian ngilangin jet lag (gaya lu jet lag) dari kereta :p. Setelah semua siap, berangkat lah kita ke Terminal Arjosari dengan destinasi Probolinggo. Dan satu pesen gw kalo lo liburan ke Jawa Timur emang harus siap dengan logat “keras” nya, paling gedeg gw asli dah sama kenek2 nya, ngomong biasa aja kasar, apalagi ngomong kasar. Huh :/, Dapet lah kita bis, harus nyambung 2 bis, total itu kalo ga salah ga lebih dari 30 ribu deh. Murah kan? Yah murah harga bis itu pasti ada pengorbanan nya, yaitu desek2an dan bau ketek mas2 yang seliweran di depan hidung :p.

KOMAN
Nyampe lah kita di Probolinggo, yang keliatan dari Argopuro cm satu, plang nya doang hahaha. Kita transit dulu di situ, kebetulan Aldi punya tambak udang di situ yang bisa dijadiin tempat bermalem buat kita sebelum besok naik. Disini bergabung lah dua orang lagi, Aldi dan Remon, tim lengkap. Ya masih rada-rada kaku sih yah belum nge blend semua, tapi tetep aja udah pada bisa ketawa-tawa bareng. Hari itu kita tidur di pinggir pantai diiringgi desiran ombak romantis di atas kasur kapuk J

The day. Hari pertama kita naik. Dari tambak ikan, kita beranjak ke Besuki dengan carter angkot. Argopuro itu kalo di peta ketinggian nya 3088, punya dua puncak, Argopuro sama Rengganis. Sementara Besuki yang jadi starting point kita ada di ketinggian berapa? 800 mdpl saja bung. Udah mulai kebayang kan jauh nya? Hahaha. Kalo yang udah pernah naik Semeru strarting point nya kan di Ranu Pane yang udah di atas 1000 mdpl, lah ini Argopuro, 800 -__-. Sampe ke Besuki langsung lah lapor kita ke pihak berwajib.

Gw sengaja ikut biar tau begimana teknis nya, mas2 nya pertama nanya
Mas: “Mau naik ya? Berapa orang?”
Mala:“17 orang”
Mas : “Hah? Buanyak amat! Itu salah satu udah ada yang pernah naik kesini?”
Mala : *cengengesan* “Belum ada mas”

Hahahaha. Yangg jagain aja udah bilang kaya gitu kan. Gw kirain ga boleh, tapi gatau nya boleh2 aja. Nah kalo mau naik kan pasti meriksa identitas sama foto dulu kan biar kalo kenapa2 jadi tau, disini mulai terungkap kalo KTP kuning tahun 80-90an ternyata masih berlaku. Pelakunya siapa lagi kalo bukan si Puty, nenek2 yang jadi temen main nya Nabi Adam :p (ampun nek ampun). Ngakak lah semua nya waktu ngeliat KTP langka itu, sayang ga sempet foto KTP nya haha.

full team :D 
Administrasi beres, saatnya berangkat. Tadinya sih dari 17 orang itu bakal di bagi jadi 3 grup, dari 3 grup itu masing ada yang bawa logistik, tenda sama medik. Tapi ya konsep dengan di lapangan malah hancurr. Terbukti konsep keren mas Pras cuma berlaku sekitar setengah jam, sisanya buyaaar semua. Hahaha.
Hari ke-1
Hari pertama itu termasuk hari yang lumayan berat. Dan banyak banget halangan nya. Dari Besuki, tujuan kita itu pos 1 yaitu Mata Air 1. Dan jalanan nya itu loh. Hadeeeeh. Tanjakan semua broo. Yaeyalaah namanya juga naek gunung masbrooo. Udah gitu banyak insiden nya lagi. Insiden satu, tas carrier nya Bedus putus,kaya percintaan gw #wets #nyelipnihdikit, terpaksa keluar lah webbing2 sakti pengganti tali tas. Kedua, edith kram betis, walhasil jalan nya jadi super slooooow. Dan apesnya lagi, mereka ada di kelompok terakhir, jadi yang lain ga tau kalo mereka kenapa2. Gw yang udah engap2an ngeladenin jalur ini ada di tengah, kalo kata yang lain gw selalu jalan diantara yang cepat dan yang lambat, dan sering juga dijadikan patokan. Huhu. Tapi setelah perjuangan nan melelahkan ke pos 1 akhirnya tim lengkap lagi, hari pertama itu gw masih kaget, terakhir kali naik gunung beneran ya gunung Gede, itu juga SMP, suges gw aneh2 banget lah tapi yang paling sering adalah “Anjir ini tanjakan ga abis2” dan beneran lah ini tanjakan nya beneran ga abis2 kaya pedih nya orang putus ditinggal kawin. Akhirnya setelah di camp gw dinasihatin bair sugestnya yang positif2 aja.
Ganteng kaan? Pohon nya :|
Nyampe camp, semua orang lelah, kaget kayanya. Ya termasuk gw.  Untung nya hari ini masih ga ada kenapa2 dan bagusnya lagi ga ujan, jadi sempet nikmatin alam nya dikit walaupun langsung kabut turun. Kalo di gunung, naluri gw yang keluar bukan naluri bikin tenda, rentangin fly sheet atau nyari mata air, tapi malahan naluri emak2 nya : masak-memasak. Hahaha. Yang penting useful bro. Masak memasak penting. Setiap nyampe camp gw gatau kenapa semua lelah itu, pegel itu, menguap semua kalo kita udah becanda2 bareng J. Padahal sik masih ada hari berikutnya yang trek nya lebih edane.

Keadaan camp
Hari kedua. Setelah semua beres makan pagi, bersiaplah kita menuju pos 2, yaitu Cikasur. Pertama kali gw denger ya jelas bingung lah, hampir 3 taun hidup di Bandung, yang namanya awalan Ci- itu ya biasanya ada di sekitaran Jabodetabek-Jawa Barat, lah ini di Jawa Timur masih ada Ci-2an. Termasuk gw sih Ci-toy. Hahah anjir jayus. Trek nya ga jauh beda sama hari pertama, gak susah sih, cuman jauuuuuuuuuh, posisi gw di hari pertama itu masih rada di depan, hari kedua turun drastis gw, jadi kaya Doni Tata di moto gp, terakhir. Capek nya ga ada obat emang. Trek hari kedua itu indah. Ada tanjakan cinta nya juga, bener2 tanjakan yang bener2 nanjak dengan sudut elevasi mendekati 45 derajat (ini sotoy jangan dipercaya). Sebenernya hari kedua ini ada pos persinggahan buat ngambil air di mata air 2, tapi karena alam berkata lain, hujan turun tiba2 semua nya jadi lost focus, bawaan nya pengen cepet2 nyampe pos aja.

Tanjakan Cinta2an :p

Yang paling berkesan di hari kedua itu buat gw ada di jalan landai yang panjang, samping nya jurang. Itu indah banget bro jalan disitu, gw emang ga bisa nulis deskriptif, tapi emang indah banget jalan nya. Diujung jalan ada cahaya, sampai lah gw di alun-alun 1, itu bentuk nya mirip kaya wallpaper Windows XP. Cakep. Dari alun-alun kecil itu kita lanjut lagi ke alun-alun besar 2, nah disini nih letak nya mata air 2, tapi kita kelewat setelah asyik ketemu jalan turunan. Disini yang namanya jalan landai atau turunan disebut nya “bonus” karena ga terlalu keluar tenaga banyak :p. Jalan mendadak jadi licin, jadilah gw bulan2an lumpur, jatuh 3 kali gw sebelum menuju alun-alun besar, dan subhanallah keren nyaaa!!. Walaupun ketutup kabut tapi gw tau banget itu tempat keren banget. Disini kita berhenti dulu, karena hujan nya lagi gede2 nya dan belum ada asupan makan siang. Kalo lo pikir makan siang nya masak lagi lo salah, makan siang di gunung itu ga lebih dari biskuit2 dan roti pake susu kental manis. Eyatapi alun-alun ini kan topografi nya lembah dan kondisi nya lagi hujan, angin nya pun konyol. Semriwing nya ga santai banget, gigi gw ga bisa berenti geletukan. Istirahat kurang lebih 15 menit lalu kita lanjut lagi jalan ke Cikasur. Dari jauh kelihatan ada gazebo diatas bukit, disitu lah camp 2. Keren banget di hamparan bukit gitu,  you should try! 

Camp Hari ke-2, Keren kaan
Hari ketiga. Tujuan: Cisentor. Nah ini nih hari ketiga wuedan. Sebenernya dari cikasur itu kita udah out of track, karena salah ngambil jalan. Jadilah kita ngeraba-raba itu hutan. Awal-awal sih masih santai2 aja, kita ngelewatin turunan yang ujung-ujung nya adalah kawah yang masih ada belerang nya. Di gunung selalu ada hipotesis bahwa, sepanjang panjang nya turunan pasti masih lebih panjang tanjakkan nya. Dan bener aja. Ternyata “Turunan belerang” itu adalah jalan yang salah. Terpaksa balik lagi ke atas dan apaaaaaa?? Dan nanjaaaak! Langsung dibales sama alam gw yang petakilan turun nya lari2 disuruh langsung nanjak lagi. Bener emang kita out of track, sampe akhirnya diambil lah keputusan kalo kita bakal buka jalan. Glek. Ngeri. Ya belum ada yang pernah kemari tapi udah buka jalan aja. Untung nya ada Hadi, Mifta dan Pras yang punya kemampuan navigasi plus tenaga lebih buat nebas2 pohon, akhir nya sampai lah kita di jalan yang lurus, shiratal mustaqim, jalan yang di ridhoi Gusti Allah #halah #fokus2.
Turunan Pembuat Nyasar
Setelah nemu plang HM, kita pun pede plus disitu ada yang camp pula, setelah nanya ternyata Cisentor itu 2 jam lagi. Waktu itu hampir jam 5, akhirnya diputuskan lah untuk jalan malem. Headlamp dan senter pun dikeluarkan. Jalanan Cisentor ini baru tantangan, bener2 pinggir juraaaang persis. Dan disini ada yang namanya tumbuhan namanya “Jancokan”. Nama ilmiah nya bukan ini sih, cuma kalo lo kena daun nya, pasti lo gerutu “Jancook! Perih coooy”. Kreatif sekali bukan? Haha. Setelah satu turunan curam dan melewati sungai, sampai lah kita di Cisentor HM 140. Deket  banget ama sungai, ini camp paling cozy sih. Ada semacam pos ronda nya gitu.

Jancukan 
Kalo udah sampe Cisentor, itu berarti lo udah deket sama puncak. Ini pertigaan antara jalan turun dan ke Rawa Embik. Disini PO kita pun langsung ngasih kita pilihan, mau naik atau mau stay dan save energi buat jalan turun ke Taman Hidup. Gw tadinya ngerasa, anjir kalo muncak gw ngeri ga kuat dan ngerepotin yang lain nih, disitu semua orang galau. Termasuk gw. Akhirnya gw memutuskan untuk challenge my limit. Naik gunung itu pembelajaran pembentukan karakter disamping juga fisik. Gw yang anaknya yang suka nunda-nunda, ga pernah percaya diri kalo sebenernya itu bisa dilakuin dan banyak lah keragu-raguan. Disini gw mutusin, gw muncak! Bukan masalah capek atau ngerasa rugi udah jauh2 ke sini tapi gak muncak, tapi jujur ini merupakan pembuktian gw ke diri gw sendiri. Akhirnya ada kesepakatan, 5 orang stay di camp sisanya muncak. Dan ga ada satupun yang tahu trek muncak itu kaya begimana dan kita dikasih limit 7 jam pp buat muncak. Yang mau ke puncak pun istirahat karena besok nya pendakian dimulai pagi buta jam 4 pagi.

Muncak ini masuk dalam kategori nekat sih, kita cm modal peta sama kompas dan sisa2 tenaga dari hari ke 1 sampai 3. Tetep berangkat sob! Karena ada 2 puncak, niat awalnya sih mau dapetin semuanya, tapi yah lagi2 konsep ya tinggal konsep, di lapangan cm dapet satu puncak aja. Dari Cisentor diatas camp kt naik dikit ke jalan menuju Rawa Embik. Disini gw tau, ternyata gw lebih suka jalan malem ketimbang siang, gw gatau kedepan gw ada apaan, jarak pandang gw cm sebatas headlamp jadi ya semangat aja gak ada bayangan track nya yang kaya begimana. Total 1,5 jam barulah sampai di Rawa Embik. Dari Rawa Embik kita berhenti ngisi air, lalu lanjut lagi menuju pertigaan, pertigaan dua puncak Argopuro dan Rengganis, kira2 2 jam lah baru sampe disini. Remon sama Haris yang nyampe duluan ternyata lagi ngedaki puncak Argopuro, sementara gw yang baru nyampe langsung aja mutusin ke puncak Rengganis aja, jalan setengah jam dan akhirnya sampai lah di puncak! Ini dia definisi hasil akhir bukan tujuan utama tapi proses nya lah yang sebenernya dicari. Puncak Rengganis biasa aja sih sebenernya, emang 2 puncak ini ga terlalu bagus sih dari yang gw baca. LEGA. PUAS. Itu dia perasaan gw begitu nyampe puncak. Udah 3 hari jalan kaki, jatoh bangun, kehausan kelaperan, seakaan akan hilang gitu aja. Di atas gw nyadar, hasil akhir mungkin ga seberapa tapi coba liat proses lo menuju hasil akhir ini kaya gimana. Hari itu di puncak Rengganis gw belajar salah satu hal terpenting dalam kehidupan. Proses dan pencapaian.

Puncak Rengganis, belok kiri!
Cuma 20 menit kita di atas puncak akhirnya kita harus turun karena emang dikejar waktu juga. Iya hari ini udah mulai masuk trek buat turun ke Taman Hidup. Taman Hidup itu ya jangan di bandingin sama Ranu Kumbolo nya Semeru, intinya sama2 danau di tengah gunung aja. Setelah nyampe camp Cisentor, makan lalu bersihin diri dikit lanjut lah kita jalan lagi menuju Taman Hidup.

INI TREK PALING NAUJUBILAH MIN DZALIK. Yang ikut sama gw dan baca tulisan ini bakalan setuju kenapa gw pake caps lock. Setelah muncak, kita memutuskan untuk mulai perjalanan turun. Iya turun walau kenyataan nya kebanyakan naik. Ini nih yang paling berat dari hari2 sebelumnya. Puncak kelelahan yang beneran. Udah trek nya sulit, ditambah hujan, terus semangat yang udah mulai kendor dan banyak tenaga yang udah hampir habis gara2 summit ke puncak tadi pagi nya. Gak banyak cerita disini selain keluhan dan jatoh berulang-ulang yang gak cm gw, bahkan nyaris semua nya. Kita pun gak berhasil nyampe Taman Hidup, tapi terpaksa buka camp dadakan dimana ga ada sumber air terdekat. Hari itu bener2 kacau lah. Rombongan gw, rombongan yang terakhir, yang jalan nya paling lama itu tiba terakhir dan 3 diantaranya langsung kolaps, ada yang asma ada yang hipotermia. Ini camp paling ga nyaman selama naik kemaren. Dari siang sampe sore hampir semua nya hujan. Hujan berhenti pas kita nyampe camp, itu pun cm 2 jam doang kali, mungkin Tuhan tahu kita mau buka tenda dulu, tenda udah, byuur ujan lagi. Sebenernya lokasi camp kali ini sama sekali ga oke karena ada di lembah, angin nya lumayan gede ditambah hujan pula. Dingin nyaa *brrr*.

Tenda gw yang terdiri dari gw, Bedus, Ilham, Edit, Baron sama Puty pun bochor bochor karena lupa pake no drop. Bener2 bocor dari berbagai sisi, kiri kanan atas bawah, karena emang naro tenda nya di jalan air, gw pun memutuskan untuk ngungsi ke tenda2 lain nya yang keadaan nya gak jauh beda. Akhirnya gw sama Bedus numpang di tenda nya Haris sama Aldi, iya mereka berdua doang satu tenda, gak mau mikir macem2 sik hahah :p. Tenda ini pun bocor juga, tapi gak separah tenda gw, dan gak ada yang bisa tidur juga, walhasil kita pun ngobrol aja sepanjang malem sambil ditemani sebatang rokok yang digilir.

Lagi ngobrol asik2 tiba si Aldi ngomong “Argopuro ini settingan nya oke sebenernya, semua medan ada disini, sabana, kawah, bukit curam, ada semua dan semua di setting biar kita puas ngeliat apa ada yang di ujung jalan susah itu dan emang keren kan” Gw mikir, iya juga sih yah, emang settingan nya keren ternyata, abis gini pun harusnya kita di Taman Hidup, danau2 gitu. Aldi ngelanjutin lagi “Argopuro ini juga terkenal sering banyak yang hilang, iya hilang terus badan nya gak pernah ketemu” Glek. Waini nih, gw ngeri bro. Gw pun nengok ke arah Bedus, kita kan termasuk nubitol (newbie2 tolol) alias pemula dalam hal gunung menggunung, ada ngeri juga di muka nya, dan akhirnya gak dibahas lagi persoalan hilang itu, akhirnya kita tidur, siapin stamina buat besok turun.         
      
There’s always a rainbow after a strom. Pagi seperti biasa keadaan normal lagi. Semua nampaknya sudah recovery dari capek semalem. Dan sudah mulai ada secercah harapan mendekati pos terakhir yang artinya apa? Ya pulang. Ternyata ada sumber air yang deket situ tapi karena malam dan panik ga ada yang berani nyari sampe jauh. Gile semalem itu persediaan air udah hampir habis jadinya kita pada nampung air hujan di payung buat minum.

Hari terakhir untuk trekking menuju ke pos terakhir, Krucil. Bukan Krucil yang itu, bukan, ini nama daerah beneran yang ada disana, terkenal dengan susunya. Susu Krucil. Bukan, bukan susu yang itu, asli. Sebelum menuju pos itu kita bakalan ngelewatin yang namanya Taman Hidup. Taman Hidup itu kaya apa ya, kaya semcam danau di gunung gitu, kalo di Semeru kaya Ranu Kumbolo nya gitu deh. Setelah trekking kurang lebih 2 jam, nyampe juga ke Taman Hidup. Jalanan nya becek karena semalem hujan. Bagus sih. Cuma ya gitu sih, biasa aja. Gatau karena gw datang di waktu yang tepat atau enggak. Gw selalu amaze sama danau yang ada di gunung gini. Disini kita ngaso (ngaso apaan? Istirahat bahasa keren nya :p) sebentar sambil nemenin Pras yang udah bawa snorkel dan fin buat ngecek danau nya. Gaya banget emang ini bocah atu.

Gw selama di sana ga pernah mandi, tubuh gw punya semacam mindset sendiri kalo mandi badan gw jadi lemah gitu, jadi makanya gw males mandi kalo naik gunung. Tapi tetep ganteng kok (boleh muntah). Karena mereka sedang asyik berenang di danau akhirnya di bagi lah menjadi 2 tim, karena kita perlu carteran untuk ke Probolinggo (kalo ga salah), akhirnya setengah dari ktia turun duluan, gw termasuk di tim yang duluan ini. Kebetulan di Taman Hidup ini ketemu 2 mas2 dari Surabaya yang lagi ngecamp di deket situ dan bersedia untuk bareng sambil nunjukkin bareng.

Tapi emang itu 2 mas sangat setrong sekali. Mereka cuma naik pake sendal jepit dan sendal gunung doang. Perjalanan turun gak gampang juga sih, walaupun turun tapi banyak jalan bercabang-cabang. Nah ini kalo lu bingung biasanya ada sebuah patok yang udah dibuat sama pendaki atau petugas disana (biasanya berupa tali warna gitu yang diiket di pohon) buat nunjukkin jalan. Tim yang turun pun akhirnya kebagi-bagi lagi. Yang cepet mah udah ngebut, tapi karena gw anak nya ga mau sombong karena bisa cepet ya gw selow aja. Mihihi. Gw berdua sama Edit turun nya, ga banyak ngobrol karena udah capek kali ya. Sampe akhirnya gw berhasil nyusul salah satu mas Surabaya itu. nah disini nih ada kejadian tolol, disitu kan ada pohon yang tumbang dan untuk ngelewatin nya kita harus loncat, gw dengan sotoy nya mencoba meloncat dan jleb, gw terperangkap udah kaya babi hutan. Hahahha. Untung saksi mata nya Cuma Edit sama mas2 itu.

Setelah kurang lebih 3 jam lah, gw melihat sebuah gubuk. Di pikiran gw apa coba, makan! Hahaha udah mau mesen indomie aja disitu, setelah gw samperin ternyata oh ternyata dia hanyalah sebuah gubuk kosong tempat peristirahatan. Patah deh. Ini udah ga karuan banget bentuk gw, belok sana-sini, baju kotor, stamina abis, tapi tetep ganteng. Hahahha. Gw, edit dan si mas akhirnya istirahat disini dulu sembari nunggu yang lain nyampe.

Disini si mas nya cerita banyak. Dia cerita kalo temen nya yang satu itu pernah 3 bulan ga turun gunung karena melakukan misi 3S 2M. 3S itu gunung Slamet, Sindoro dan Sumbing. 2M itu Merapi dan Merbabu. Selama 3 bulan itu ya beneran ga turun ke kota si mas nya, nyari persiapan buat gunung selanjutnya ya beli di kampung-kampung situ. Orang gila. Terus si mas ini masih cerita gini ceritnaya kira-kira:

“Disini tuh ada gunung namanya Gunung Keder. Letak nya tuh di jalanan turun tadi, kalo kalian ga liat marka aja, kalian bisa nyampe sana tuh. Ya kaya nama gunung nya aja to, keder. Udah masuk sana ya ga mungkin keluar lagi. Udah keder mblinger.”

Faaaaak. Hahahah. Untung aja gw ga nyasar. 

Setelah semua hal akhirnya tiba juga di perkampungan. Ah, akhirnya. Dan ketika gw buka sepatu, kaki kapalan dimana-mana. Hahaha. Jendol2 ga jelas. Gapapa lah kebayar semua nya dengan perjalanan ini. Kapan lagi bisa jalan serame2 ini. Besok2 udah pada sibuk semua dengan rutinitas masing-masing. 

Sekian. Dan yang belum pernah naik gunung, mending naik gih. Sayang banget masa muda lo kalo ga naik gunung. percaya sama gw. 

Dan guys, Semeru kapan nih? Gak penasaran? Hahahah

Sunday, September 8, 2013

RuangTamu, Kunjungan Yang Mengesankan

Nonton stand-up show kali ini dimulai dengan kesialan. Kesialan pertama, e-ticket gw yang udh gw print mendadak ilang karena nyokap yang amat terlalu rapi menyimpan dokumen sampai2 dia lupa sangking rapi nya.

"Oh, selow deh masih ada di email"
*jreng2* Ternyata karena e-mail e-ticket kemarin masuk nya di spam, otomatis lah sudah kehapus. WAH ANJIR RUGI GOCAP DONG GW KLO GA BISA NONTON!!. Tapi akhirnya setelah menghubungi pihak panitia, akhirnya bisa masuk juga dengan nunjukkin struk pembayaran.

Kesialan kedua adalah, gw nonton s-e-n-d-i-r-i-a-n. SENDIRI. Ini karena 2 temen gw dari komunitas stand-up nangor mendadak ga bisa ikut dan temen gw satu lagi lebih memilih menghabiskan malam minggu nya menunggui Instalasi Gawat Darurat di Bekasi sana. Entah mana yang lebih suram, gw nonton stand-up sendiri atau doi yg jaga IGD di Bekasi :p. Yang belom tau Bekasi, negara itu berbatasan langsung dengan Jakarta yg memiliki 3 matahari. Panas men. (Lah ngapa jadi ngomongin Bekasi :/)

But the show must go on, right? Ya gapapa lah, sendirian takis aja. Toh gw emang butuh hiburan berkualitas setelah semingguan terakhir berkutat dengan data klorofil 4 musim selama satu tahun, yang satu musim nya bisa sampe ada 1000 column excel. Iyah ini curhat.

Akhirnya berangkat lah gw ke Bulungan dgn perasaan waswas krn takut ga bisa masuk krn ga bawa e-ticket. Sedang waswas nya, tiba2 di metro yg gw naikkin masuk 3 orang pengamen. Tapi ada yang aneh, mereka ga bawa alat musik apa2. Shit, what the hell is this? And surprised. Mereka baca puisi. ..... . Puisi nya terlalu absurd untuk ditulis, tapi beberapa sempet gw tweet kemaren.

Akhirnya sampai juga di Teater Bulungan, diantara 2 SMA tergaul se Jaksel, 6 dan 70. Gw bisa masuk ternyata setelah nunjukkin bukti pembayaran. Setelah dapet souvenir, gw pun menunggu sampai pintu di buka. Iye2 sendirian. Ga berani kenalan, cemen yee. Gw memutuskan untuk merokok. Tapi di tengah keasyikan gw merokok sambil buka TL, gw ga nyadar kalo di belakang gw ada banner "Dilarang Merokok Di Areal Ini Berdasarkan bla bla bla". Fuck. Ah tanggung lah, lagi2 gw melanggar peraturan yg harusnya kita patuhi. Nama nya juga Indonesia, negara yang penuh pengertian, gak kaya kamu huh.

Sedikit oleh2 dari RuangTamu

Setelah gw nuker tiket dan merokok, itu kira2 pukul 18.30, asik gak telat, setengah jam lagi bisa nyari best spot walau jam segitu yg ngumpul juga udh banyak. Di poster sih dibilang, pintu terbuka pukul 19.00. I thought it was right on schedule, gataunya tetep ajaa, ngaret. Indonesia lah, biasa. Harusnya di poster ditulis, pintu terbuka pukul 19.00 tapi ya gapapa sik klo telat, klo gak situ yg telat ya kita yg telat. Hehehe :). Sedikit masukkan aja.

Oke, akhirnya pintu rumah dibuka. Para tamu pun berdesakkan ingin masuk. Dibuka oleh 2 MC kampret, @adjisdoaibu dan @awwwe_ yg mendapat peran sebagai lampu dan ikan. Kaget juga ternyata diatas panggung beneran ada sofa dan meja. Benar2 ruang tamu.

@adjisdoaibu dan @awwwe_

Seperti di kebanyakan rumah, pasti ada tulisan "Tamu Wajib Lapor 1 x 24 jam", begitu pula di Ruang Tamu ini. 300 tamu dalam satu hari pasti akan menimbulkan keramaian. Untuk itulah dipanggil Pak RT, Sam D. Putra (@notaslimboy) yang menerima kunjungan dari para tamu sekaligus membuka pagelaran ini. Om Sammy terlihat seperti bupati daerah konflik yang tetap saja korupsi. Hehehe ampuun om :)

Om Sam @notaslimboy


Setelah Om Sam, dimulai lah Ruang Tamu ini. Opener pertama, @yantoblek. Dengan brengsek nya masuk ruang tamu pake skateboard! Mudah2an lu semalem nabrak beneran Blek! Hahaha. Bit2 ringan tapi lucu dari Yanto Blek sukses bikin panas para tamu. Wajar sih yang begini menang Street Comedy 3 :).
@yantoblek


Selanjutnya ada @AryaNovrianus , anak anjing! Hahaha! Ancur!!  Bit nya bener2 ngablak dan tidak berkeprimanusiaan. Sukses bikin gw dan tamu lain ngakak. Bit paling bangsat waktu bahas yang dia sekeluarga pindah agama di ruang tamu yang disitu ada patung Yesus nya. Pecaaaaaah!

@AryaNovrianus


Sejujurnya, setelah Arya turun, gw sangat amat kebelet kencing. Tapi setelah dipikir-pikir, dengan muka gw yang pasti bakal kena riffling dan si duo MC anjing yang emang jago banget riffling orang, gw memutuskan untuk tidak beranjak.

Ruang Tamu nya Krisna Harefa sendiri mengingatkan gw sama show Red, White and Brown nya Russel Peters. Kenapa? Karena di salah satu show nya Russel, dia ditonton sama nyokapnya dan ada bapak2 yg dengan polos nya ngajak anak nya yang masih kecil untuk nonton. Dan di Ruang Tamu juga sama. Ada nyokap nya Krisna dan ada anak kecil! Hahaha. It takes courage to stand-up in front of your mom, apalagi ngejadiin nyokap lo sebagai bahan. Credit for Krisna.

Sang tuan rumah akhirnya muncul.*jrengjreng* *drumroll*


Sang Tuan Rumah @krisnaharefa
Krisna hampir membuat gw ngompol di celana. Tampil dengan bit-bit nyantai yang amat sangat lucu. Ini ujian untuk kantung kemih gw, karena antara tertawa lepas atau ada pipis yang akan menodai celana dalam ini. Bit yang paling gw inget banget itu ketika udah mulai ngomongin orang-orang yang bangga sama siapa orang tua nya. 

Dan tiba-tiba Krisna bilang, "Gw akan melakukan sesuatu yang beda"
Tiba-tiba ada musik pelan. 
Lalu tiba-tiba keluar lah dua anak jalanan yang tadi ngamen di metromini. ANJIR! APAKAH GW DEJA VU? 

Oh tidak, ternyata itu adalah @kukuhya dan @NDIGUN yang membantu Krisna membawakan bit nya secara musikal. 


@kukuhya, @kirsnaharefa dan @NDIGUN
Konsep nya adalah pertama Ndigun membacakan sepenggal sajak yang lalu disambung dengan Krisna dan ditambahkan dengan Kukuh sambil bermain gitar. PECAAH! Lagi2 gw hampir kencing di celana. Paling pol waktu bahas "Alkisah ada seorang pemuda, dia naik BMW di kota lalu menghilangkan nyawa". Lalu Krisna pun menambahkan dengan "Ternyata dia anak menteri, menghilangkan nyawa lalu pura2 depresi, lalu cabut ke luar negeri" dan Kukuh melontarkan punchline "Ternyata dia anak Hatta Radjasa". PRANG!!. Orang gilaa! Hahahaha gw ketawa ngakak banget di bagian ini sampe di bagian Krisna ngajak para tamu untuk nyanyi bareng. Gw aja ampe lupa lirik nya apaan karena ketawa terus. 

Kukuh dan Ndigun lalu cabut, Krisna pun melanjutkan sendirian. Sementara itu, kandung kemih saya sudah berteriak tidak tahan ingin mengeluarkan air nya. Tapi ya rugi bro kalo ke kamar mandi sekarang! 

Sepanjang show, sebelah gw ada 2 cowok yang cekakak cekikik ngebahas bit dan sebelah gw adalah sepasang couple. Iya iya, gw sendirian, ga usah diingetin gitu. Mas2 sebelah yang pacaran selalu aja menebak punchline yang akan ke luar dari mulut Krisna ."Nih pasti ini nih bla bla" sambil nengok manja ke pacar nya. Yaelah mas, belicik tau, bikin stand-up special aja entar yak sendiri. Udah gitu sepanjang show, banyakan yang gw liat sih pegangaan tangan mulu. Kaya mau nyebrang jalan. Tanpa mempedulikan kalo di sebelah nya nonton sendirian tanpa ada tangan yang bisa di genggam selain tangan sendiri. Anjir, stop2 jadi curhat. Mungkin dia lupa ini acara namanya #RuangTamu bukan #NyebrangJalan. (heheh ampun mas, saya cuma becanda ini)

Bit yang paling nempel dari Krisna buat gw adalah ketika dia bilang "Cowok itu punya filter di otak nya tentang gimana perlakuin cewek cakep dan cewek jelek". DAMN! IYA BEUT IYA! Hahahah. Gw ngakak parah waktu bagian cewek nyebrang

*cewek cakep lewat* 
"Kiw kiw, anjir cakep yak cakep, ayo ati2"

*cewek jelek lewat* 
"NGAPAIN SIH NIH ORANG! DASAR PEMBANTU!"

HAHAHAHAHAHHAHA GUA NGAKAK SENGAKAK NGAKAK NYA. Kayanya udah keluar dikit di celana dalem nih pipis nya. 

Setelah itu, masih bahas beberapa bit lagi dan.... 
Voila. Selesai. 
Gw langsung ngasih standing applause. 
It was a great performance. 
Krisna pun memanggil semua performer ke atas panggung sambil bilang 
"Makasih kalian udah bantu gw wujudin mimpi gw!" Hehehe, my pleasure.

Tuan Rumah dan Performer lain nya


Mungkin ini salah satu 50 ribu terbaik yang pernah gw habiskan.
Gw apal sebenernya beberapa bit lagi, tapi biar ah, biar yang nonton pada ngiri ga bisa nonton, mangenak woooo. 
Senang bisa bertamau ke RuangTamu nya Krisna malam ini
(walaupunsendiriandisampingorangyangpacaransik huhu :( ) 

Tapi sekarang hal yang harus gw lakukan adalah menuju kamar mandi. Ini udah diluar batas kontrol. Awas baca nya yang bener. Disini pun gw masih sial, ternyata ngantri! Gak lama sih, tapi sebelum si otong keluar, gw nyadar sesuatu, ANJING INI MAS2 YANG SEBELUM GW GA NYIRAM KENCINGNYA!. Kampret. Tapi gw positive thinking aja, mungkin dia ga pernah make toilet yang bisa flush. Makanya mas, jangan kampung amat apah. Hahahah. Besok2 kalo bikin RuangTamu lagi, MC nya jangan yang jago riffling dan kamar mandi nya deket dengan stage, atau kalo bisa di atas stage.

Sebenernya ada photo booth RuangTamu, tapi berhubung gw sendirian, (Iya sendirian, udah ngape sik ih!) dan terlalu malu untuk "Mas, boleh tolong fotoin gak" Eaaaa. Gak deh, gw mau langsung pulang aja. Dan lu tau apa? HUJAN. Kuampret. Walhasil gw nunggu hampir sejam sebelum temen gw dateng ngejemput di Bulungan. Sebenernya sih ada niatan mau beli merch shoutcap "Tuan Rumah", tapi setelah gw liat dompet, ternyata uang gw tinggal ada Otto Iskandar Dinata yang langsung habis buat bayar soto ayam. 

Yaudahsih kalo rejeki gak akan kemana. Iya gak. 
Segitu aja review singkat gw. 
Runtutan kesialan ini terbayar tuntas dengan tontonan spektakuler dari semua pengisi acara. 
Awesome. 
Semoga lo bisa buat RuangTamu di kota2 lain, Kris. Amiin 

Cheers *beers*


PS: All photos is a copyright from Bressiona Chastity (@bchastity). Karena kece2 sekali dan gw emang males foto2 karena keseringan ketawa, jadi izinkan saya meminjam nya :p. Dan maap2 kalo ada bit yang salah ketik, namanya juga seingetnye heheh :).