Friday, May 16, 2014

Membacalah

source: wikimedia
Sedih loh ini. Kemarin sempat (akhirnya sih) mampir ke Palasari, untuk yang tidak tahu Palasari ini merupakan sebuah tempat penjualan buku-buku baik itu buku baru, buku bekas bahkan buku bajakan di daerah Buah Batu, Bandung. Disana segala macam buku kayanya ada, mulai dari buku pelajaran sampai novel-novel roman picisan Mira W juga ada. Tapi pasar ini makin sepi. Itu sih menurut pengakuan bapak penjaga kios tempat saya mencari buku kemarin. Katanya beberapa tahun ini pembeli buku sudah sedikit, bahkan kata dia banyak teman-teman nya yang akhirnya gulung tikar di usaha penjualan buku ini.

“Orang sekarang mah pada males baca a, maunya udah jadi film wae” Gerutu si bapak.

He has made a point. 

Entah kapan kegemaran membaca saya dimulai. Kata Ibu dulu saya sebelum masuk TK juga sudah suka minta diajarkan membaca karena kakak saya yang usia nya hanya terpaut satu tahun sudah mulai masuk TK dan saya entah karena merasa bodoh atau memang tidak kerjaan minta diajari Ibu. Dan hasilnya? Kata Ibu sih saya lebih cepat bisa baca dibandingkan kakak saya. 

Saya masih ingat buku pertama yang saya baca. Lima Sekawan nya Enid Blyton. Entah apakah kalian familiar dengan nama tersebut. Buat saya Mr.Blyton telah membuka imajinasi saya. Petualangan 4 orang ditambah satu anjing di tanah Inggris itu amatlah seru. Saya masih ingat saya bertanya apakah pulau Kirrin itu nyata keberadaan nya kepada tante saya yang punya buku itu. Setelah itu hampir semua buku cerita saya lahap. Tidak heran jika di agama Islam ayat pertama yang diturunkan Allah SWT adalah ‘iqra’ yang artinya bacalah.

Buku pertama, tapi terjemahan Indonesia

Waktu kecil saya juga suka bermain, saya bukan anak kurang pergaulan yang kerja nya hanya baca buku saja. Tapi ketika membaca buku, realita disekeliling saya perlahan menghilang. Kebanyakan teman-teman saya sekarang ketika saya tanya, kenapa kalian tidak suka baca buku sih? Jawaban yang paling sering saya dengar adalah ini: 

“Gak ada gambar nya toy, tulisan semua cepet bete nya”

Kita dilahirkan dengan sebuah organ luar biasa yang bernama otak yang memungkinkan kita untuk berimajinasi semau kita dari rentetan huruf-huruf saja. Dan kalian masih mengandalkan orang lain untuk mewujudkan itu? Saya sih tidak, imajinasi itu harus terus dilatih jangan dibiarkan tumpul. Ketika saya membaca Musashi, saya terbang langsung ke Jepang menyaksikan kehidupan Musashi dengan way of samurai nya ketika saya membaca Winnetou, saya bertualang di wild west bertemu suku-suku Indian bersama Old Shatterhand yang dengan satu pukulan nya mampu membuat orang tidak sadar. Atau ketika saya membaca kisah Alexander The Great menaklukan Alexandria, saya membayangkan saya ada disana menyaksikan nya sendiri. Sehebat itulah imajinasi, kawan. 

Coba kalian perhatikan banyak sekali film-film ataupun serial sekarang yang based on novel. Harry Potter, Lord of The Ring,  Hunger Games, Sherlock Holmes, Game of Thrones atau bahkan 5cm dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Semua cerita tersebut berasal dari daya imajinasi sang penulis yang tentunya sudah membaca banyak buku sebelum nya sampai mereka bisa membuat cerita hebatnya masing-masing. Kadang saya tidak menonton film hasil dari adaptasi novel tersebut karena saya takut imajinasi saya hancur dengan interpretasi imajinasi dari sang sutradara padahal kita membaca buku yang sama.

Karena membaca adalah bahan bakar untuk menulis. Dua hal yang saling bertautan sama sekali.

Tidak bisa dipungkiri memang kemajuan teknologi menghadirkan media-media lain selain buku untuk kita membunuh waktu. Saya pun terbawa arus itu. Tapi tetap saja, toko buku atau perpustakaan jauh lebih menarik untuk saya telusuri. Ada romantisme sendiri dari toko buku dan perpustakaan yang vibe atau getaran nya tidak bisa ditemukan di tempat lain. Wangi dari lembaran halaman buku baru yang saya beli ataupun lembaran yang mulai menguning karena sudah termakan usia, selalu jadi daya tarik tersendiri untuk saya.  

Saya membiasakan diri dengan selalu membaca, entah segala macam genre dari fiksi sampai non-fiksi. Pemikiran orang, sejarah sampai tetek bengek dunia paralel dan apakah benar keberadaan alien, semua. Yang jelas setiap bulan (dulu sih setiap minggu) saya harus membaca sesuatu. Buat saya membaca sendiri adalah nutrisi untuk otak. Yang membuat ia tetap bekerja secara optimal. Bahkan kemana-mana saya selalu membawa buku untuk dibaca dan kadang merasa risih jika lupa membawa nya. Entah lah, mungkin begini kelakuan kutu buku. 

Lalu apa kelebihan membaca? Kita jadi lebih tahu sesuatu di banding orang lain. Knowing is power. Mengetahui adalah kekuatan. Saya mengagumi Magnussen, salah satu antagonis dalam serial Sherlock, yang hanya dari membaca lalu menyimpan semua ingatan membaca nya di dalam istana berpikir (mind palace) nya. Sinting. 

Saya pernah membaca entah dimana di internet, mahasiswa sekarang bahkan katanya hanya membaca 2 buku saja secara keseluruhan selama masa perkuliahan. Gila gak tuh? Tapi ya memang textbook buku pengetahuan memang sangat sulit untuk dicerna sih hehe. Jangan kan textbook bahkan novel-novel ringan pun malas dibaca nya. Saya pun punya guilty pleasure karena pernah membaca buku setebal 2000 halaman (iya duaribu) tapi membaca kitab suci agama saya yang hanya 30 chapter/juz saja belum khatam. Hahaha. Iya nanti kok, insha Allah di upgrade.

Saya tahu saya tidak diberkahi wajah tampan atau pun tubuh atletis yang gemar berolahraga. Saya tahu itu. Tapi saya selalu bersyukur masih diberikan segala sesuatu nya dengan sempurna tanpa ada kecacatan dari Tuhan. Saya punya mata yang berfungsi normal dan otak untuk berfikir dan berimajinasi (kadang terlalu) liar. Lalu apa yang bisa saya andalkan? Saya harus banyak tahu, saya harus banyak baca. Saya harus punya kelebihan dibanding yang lain nya. Mungkin itu salah satu alasan nya. Tapi diluar itu saya memang senang membaca, saya tidak peduli lagi dengan wajah tampan atau pun tubuh atletis yang jelas otak saya sudah saya latih sedemikian rupa dengan membaca dan tahu banyak hal. 

Dan ketika ada wanita yang bilang “Aku suka deh liat cowok yang pinter yang suka baca gitu, seksi”. Percayalah kawan perkataan itu hanya sekedar retoris belaka. Hahaha. Membaca lah karena suka dan ingin tahu. Bukan karena hal lain nya. Apalagi karena hanya ingin dibilang pintar.  

Bisa dihitung dengan jari lah beberapa teman saya yang memang senang membaca, yang membaca tanpa ada paksaan, yang membaca karena dia memang senang dan ingin tahu apa sebenarnya isi dari buku ini. Dan untuk ukuran mereka mungkin saya kalah kutu-buku nya dibanding mereka. Semakin banyak kita tahu banyak hal, semakin kita menyadari bahwa kita ternyata tidak tahu apa-apa. Mungkin orang-orang bahagia adalah orang yang malas bertanya dan mempertanyakan sesuatu. Ingin rasanya menjadi mereka. Tapi saya tidak bisa. Saya terlanjur untuk tahu banyak hal dan banyak hal yang saya pertanyakan. Resiko. 

Jaman sekarang sudah banyak kok buku dalam bentuk digital kok. Dan buku bukan media satu-satunya, masih ada artikel, jurnal dan hal lain nya yang menarik untuk dibaca. Orang pintar itu bukan karena dia dari sana nya pintar, tapi karena dia lebih tau dan darimana dia lebih banyak tau? Dia belajar dan banyak membaca. Terdengar klise yah tapi ya memang begitu adanya. 

Banyaklah membaca kawan. Karena buku adalah jendela dunia. Buku adalah nutrisi otak. Buku membuat otak kita terstimulasi untuk selalu berimajinasi. 

Jadi buku terakhir apa yang kalian baca?

Masih ingat? Atau memang jarang membaca buku?


Wednesday, April 9, 2014

Ambil Saja Hatiku

Jadi gini, selain jadi mahasiswa gw juga beberapa kali disuruh ngajarin bahasa Inggris di salah satu tempat bimbel. Apakah gw jago banget? Enggak juga, malah kadang gw ini cuma modal pede doang loh karena keseringan gaya-gayaan make bahasa Inggris setiap hari :p. 

Oke, jadi begini, gw selalu bilang ke murid-murid gw *tsaah*, belajar bahasa Inggris itu harus lah fun. Mulai lah dari hal-hal yang lu suka, misal nya buku, musik atau film tapi inget yah, yang bahasa Inggris jangan bahasa Mozambique, ya percuma cuy. 

Jadi sekarang coba deh, mulai dari yang gampang dulu kali ya, lagu. Pick a song in English then translate it into Bahasa. Lagu yang gampang aja, jangan yang bicarain konspirasi pemerintah atau khayalan lu hidup di dunia paralel, lagu cinta-cintaan aja dulu yang selow. Gw sekarang bakal berusaha mengtranslate kan lagu nya Mr. Big yang Just Take My Heart. Okee, let's start. 


It's late at night and neither of us sleeping               
I can't imagine living my life after you're gone
Wondering why so many questions have no answers 
I keep on searching for the reason why we went wrong? 

Malam sudah larut dan kita berdua masih terjaga
Aku tidak bisa membayangkan hidup setelah kau pergi 
Bertanya kenapa banyak pertanyaan yang tak ada jawaban nya.
Aku terus mencari alasan kenapa semua ini menjadi salah

Where is our yesterday? 
You and I could use it right now
But if this is goodbye 


Dimana hari kita yang kemarin?
Kamu dan aku bisa mencarinya sekarang 
Tapi jika ini adalah perpisahan 

Just take my heart when you go 
I don't have the need for it anymore 
I'll always love you, but you're too hard to hold 
Just take my heart when you go 

Ambil saja hatiku jika kau pergi 
Aku rasa aku tidak butuh lagi 
Aku selalu cinta kamu, tapi kamu terlalu sulit untuk ku jaga
Ambil saja hatiku jika kau pergi

Here we are about to take the final step now
I just can't fool myself, I know there's no turning back
Face to face it's been endless conversation 
But when the love is gone you're left with nothing but talk 

Sekarang disini. kita akan mengambil langkah terakhir
Aku tidak bisa membohongi diriku, aku tahu tidak ada jalan untuk kembali 
Saling berhadapan kita berbicara tanpa akhir 
Tapi ketika cinta sudah hilang, yang tersisa hanyalah kata-kata

I'd give my everything
If only i could turn you arounf 
But if this is goodbye 

Aku berikan segala yang ku punya 
Kalau itu bisa membuat kau kembali 
Tapi jika ini perpisahan

Anjiiiiiir, Mr.Big dangduuuut bangeeet kalo bikin lirik. Hahahaha, Gw jadi nya ketawa ketika baca ulang hasil translate nya. But it was a beautiful song, indeed. Emang yah masa-masa grieving atau kehilangan membuat seniman-seniman menghasilkan karya-karya yang masterpiece dibandingkan ketika meraka mengalami masa happiness. Coba liat lagu-lagu everlasting, yang dari dulu sampe sekarang masih sering didenger, apa temanya? Patah hati, kehilangan, denial. Hahahaha. I should stop now, lama-lama bisa curhat kalo nulis tentang ini terus. 

So, that's it. That's how I learn my english and get more vocabularies. Mostly, I get it from books. Tapi ya gapapa, masih ada film dan lagu yang punya banyak kosakata lainnya. Jangan takut gatau artinya ketika ketemu kata dalam bahasa Inggris yang baru kalian baca, kan jaman udah canggih men, tinggal liat kamus artinya nambah deh kosa kata lu. Ini adalah salah satu cara untuk menambah kosakata aja, masih banyak banget kalo emang mau jago, nanti bakal ada slang (bahasa sehari-hari) dan macem-macem nya.  

Do it often. Sampe masuk fase ketika lu denger bahasa Inggris tiba-tiba ke translate ke bahasa otomatis. Iya, itu bisa kok, asal rajin-rajin aja. 

Cukup lah sotoy-sotoyan nya kali ini :p. 

Monday, March 31, 2014

Di Simpang Jalan


Sejujur nya saya sedang bingung seperti orang di tengah persimpangan itu. Ditengah-tengah usaha saya menamatkan studi saya tiba-tiba muncul pikiran 'Oke, lulus. Terus mau jadi apa? Udah tau mau kemana?'. Jujur sebagai mahasiswa tingkat akhir ini pertanyaan yang amat sangat filosofis. Hahaha. 

Jadi gini kenapa saya bingung nya, saya sekarang masih kuliah di jurusan Ilmu Kelautan. Sebuah jurusan yang anti-mainstream sekali bukan. Mungkin kalau saya anak Komunikasi, Ekonomi, Manajemen dan berbagai jurusan lain nya yang lebih banyak orang kenal tentu saya tidak akan terlalu bingung. Ya jelas setiap tahun nya banyak perusahaan buka lowongan untuk jurusan  mainstream tersebut. Tidak ada maksud mengkotak-kotakkan jurusan ini istilah yang saya buat sendiri. Sementara bagaimana dengan jurusan saya sendiri?

Cukuplah idealisme yang ditanamkan selama kuliah tentang pekerjaan yang harus selalu berhubungan dengan apa yang kita pelajari selama kuliah ini. Cukup. Sudah banyak saya melihat idealisme yang mentok dengan sesuatu yang dinamakan kenyataan. Banyak teman-teman saya yang lulus lalu kemudian bingung dengan gelar yang di punya. Sementara itu tentu tidak ada yang peduli bukan dengan kebingungan itu, yang ada cuma tuntutan untuk segera mandiri dan bisa cari makan sendiri. Famiiliar guys? Iya, terimakasih. 

Kadang saya iri dengan gajah. Gajah kecil tidak butuh waktu lama untuk segera mandiri dan bisa hidup sendiri tanpa bantuan induknya. Gajah tidak perlu edukasi dengan tau segala macam hal. Yang iya perlu tau adalah dimana dia bisa mencari makan dan bagaimana menghindari predator. Manusia juga seperti itu bukan, yang terpenting dari segala hal agar tidak lapar dan tidak mati termangsa, maka manusia harus survive, survive dengan bekerja, pekerjaan didapat setelah melalui tahapan edukasi dan berulang-ulang terus entah sampai kapan. Saya memuji yang menemukan sistem ini, well done sir. 

Apakah saya merasa salah masuk jurusan? Awalnya iya. Saya punya kesempatan masuk kampus negeri lainnya yg 180 derajat berbeda dengan oseanografi. Tapi apa saya berhenti? Tidak. Saya kira saya sudah terlanjur jatuh ke dalam lubang ini, lubang yang ternyata diisi air laut, so dibanding harus merangkak menuju tepip lalu bangun dan keluar dari lubang, kenapa ga sekalian saya belajar berenang, menyelam dan menikmati lobang itu, toh kita tidak pernah tau ketika sudah keluar dari lubang kita tidak akan terperosok ke lubang-lubang lainnya. Dan ternyata makin lama ternyata saya makin suka dan tidak lagi merasa salah jurusan. 

Saya rasa kebanyakan dari anak-anak SMA sekarang, bahkan ketika jaman saya dulu, kita masih belum tau apa yang benar-benar kita mau apa. Mau jadi apa kita? Mau karir di bidang apa? Bahkan sampai sekarang saya masih tidak tahu saya mau jadi apa. Kita terlalu terbebani oleh perintah orangtua, mungkin. Dari hal yang simpel aja, ketika SMA dan memilih jurusan pasti jurusan IPA bakal lebih laku dibanding jurusan IPS. Coba aja tengok sendiri deh, kelas IPA pasti lebih banyak daripada kelas IPS. Kenapa sih emang? Apakah dengan masuk IPA menjamin kalau kita lebih pintar dari anak IPS. Tidak  juga. Bahkan kadang di akhir ada anak IPA yang akhirnya masuk kuliah IPS. 

Oh, saya terdengar seperti anak SMA saja ya.

Jujur saja, dulu sewaktu SMA saya sudah meniatkan niat saya untuk masuk IPS dan bukan IPA, toh hasil psikotes, yang entah penilaian nya masih valid atau tidak itu, saya terbukti anak IPS banget. Saya sudah memproyeksikan hidup saya bakal menuju kemana. Saya suka sastra. Saya suka menulis. Saya tidak terlalu suka berjibaku dengan rumus-rumus dan konstanta eksak itu. Saya mau masuk sastra, sejarah, komunikasi atau psikologi. Saya mau berkarir sebagai jurnalis, psikolog ataupun orang yang bergerak di dibidang komunikasi lain nya. Lalu? Ya orangtua saya lalu menyuruh saya masuk IPA saja tanpa tahu kalau saya sebenernya malas. Dan saya gak tidak bisa apa-apa, melawan nanti dibilang durhaka. Padahal untuk apa sih mereka menyuruh saya masuk IPA? Untuk membanggakan di depan orang taua lain nya kalau saya bisa masuk IPA. Tapi kan yang jalanin saya. Saya gamau dijadikan hanya sebagai bahan pamer. Ah, sudahlah andai saya melawan waktu itu, takdir akan berkata lain. 

Gak ada gunanya juga menyesali keputusan yang lalu bukan. Life is simple, you make choice and don't look back. 

Saya tahu, ada kok pekerjaan yang menampung para sarjana kelautan. 
Tapi sebenernya apakah kita benar-benar mau kerja?
We don't want to work, we just want the money. 
Ya mau gimana lagi yah, that's how life work, you want a money, get a job and stop whining. 

Andai saja banyak orang Indonesia yang mempunyai pikiran bahwa tolak ukur kesuksesan bukan hanya uang, tapi pencapaian. Saya mendapatkan banyak inspirasi dari buku yang NASIONALISME yang ditulis oleh Pandji, kalo sempat bacalah.

Ini bukan tentang idealisme kerja sesuai dengan bidang yang kita pelajari, ini adalah lebih ke apa sih yang kita inginkan buat hidup kita. Nasib kita ada di tangan kita sendiri bukan di tangan orang lain. Ingat, kita masih bisa kok jadi apa yang kita mau. Asal ada usaha dan jelas tidak mudah
  
Sudahkah kamu tau mau jadi seperti apa?
Kalau sudah apakah kamu sudah di jalan itu?
Atau kenyataan dan kebutuhan akan uang sudah menghampiri kamu? 

Life is cruel, indeed.
Semoga masih ada waktu untuk saya sendiri menentukan ingin jadi orang seperti apa saya ini.

(Ditulis untuk sekedar intermezzo pikiran dari bab 4 pembahasan skripsi)       

Tuesday, March 18, 2014

Let It Be

Mungkin dari semua lagunya The Beatles, gw punya beberapa track favorit dan track ini adalah salah satunya. Iya, Let It Be. Let It Be sendiri merupakan single dari The Beatles dari album yang sama yang dikeluarkan kuartet legendaris tahun 1970. Iya, 1970 berarti 34 tahun yang lalu dan gw masih dengan amat senang sering menandungkan nya. Mungkin sampai nanti tahun 3057 juga, masih ada yang dengerin The Beatles. Legends.

Aslinya, lagu ini sih ditulis sama Paul pas dia abis mimpi ketemu almarhum ibunya yang meninggal gara-gara cancer. Dan 'Mother Mary' disini pun tidak direferensikan dengan injil atau agama lain, tapi ya Mother Mary ini merupakan interpretasi McCartney untuk ibunya. Tapi kata Paul lagi, silahkan menginterpretasikan lagu ini sesuai selera masing-masing. Baiklah Paul, mari kita coba!
When I find myself in times of trouble, Mother Mary comes to rescue me. 
Speaking word of wisdom, let it be... 
And in my hour of darkness, she is standing right in front of me. 
Speaking word of wisdom, let it be...
Kadang, dikala kita lagi banyak cobaan hidup, pernah nggak sih berharap bakal dateng seseorang yang selalu ada buat kita buat nasihatin kita dengan bijak? Disini sih  gw menginterpretasikan nya ya emang tentang Ibu. Ketika lagi bener-bener stuck dan ga ada lagi orang untuk mengadu (masih ada Tuhan sih, klo udah stuck banget :p), selalu ada ibu yang jadi tempat terakhir buat lu untuk cerita semua nya. Pasti semua orang pernah kejadian deh kaya gini.

And when the broken hearted people, living in the wold agree. 
There will be an answer, let it be... 
For though they may be parted, there is still a chance that they will see
There will be an answer, let it be...
Waini, bagian ini sih buat orang-orang patah hati. Hahahha. Kadang kita harus tahu, kapan kita harus bener-bener pisah dan yeah go on living, life goes on. Walaupun kadang masih ada sedikit kesempatan, a slight chance, yang ada ke depan nya, percayalah suatu saat bakal ada jawaban nya. Biarlah. Live with it and let go.
And when the night is cloudy, there is still a light that shines on me 
Shine on until tomorrow, let it be... 
I wake up to the sound of music, Mother Mary comes to me 
Speaking words of wisdom, let it be...
Karena percayalah, suatu saat bakal ada cahaya yang akan bersinar terang yang akan selalu menerangi terus untuk besok dan hari-hari berikut nya. Biarlah cahaya nya terus menyinar. Sampai  nanti ketika lu terbangun ditemani suara musik ciamik. Bukankah perlu sebuah malam yang kelam untuk menyambut pagi yang terang dan menyegarkan.

(Gw mau muntah baca paragraf diatas hahaha)

Itu aja sih sebenernya lirik nya, sisanya reffrain dimana cuma teriak let it be dan let it be. Relakan dan biarkan. Lagu ini sangat menyihir dari denting piano pertama sampai ditengah ketika mulai masuk instrumen lain nya apalagi ketika selesai reff pertama dimana ada suara syntheizer lalu disusul dengan melodi gitar dari George yang membuai. Mendengarkan nya sambil menutup mata, sambil mendengar John dan Paul menasihati kita untuk merelakan. Biarlah. Let It Be. Ada sebuah pesan untuk merelakan dengan lega suatu masalah.

Huaah salah satu lagu pendamai untuk diri sendiri.
Ini gw mencoba untuk meng-cover dengan suara seadanya dan kemampuan gitar yang seadanya pula :p. Kali berkenan untuk mendengarkan.

Let It Be, Let It Be!

Saturday, March 8, 2014

Jam Tangan


Mari bercerita. Saya sedang tidak mau sok keren dengan menggunakan bahasa Inggris. Mari perkaya diksi.
 


Jam tangan. 
Dia selalu terpasang di pergelangan tangan kiri ku dengan erat. Ku bawa pergi kemanapun. Tidak, jam ini bukan jam mahal berlapis emas, kawan. Ini hanya jam biasa yang harga nya paling mungkin untuk ku jangkau. Orang bilang kita harus terbiasa dahulu sebelum menyatu satu sama lain. Begitu pula aku dan jam tangan ku. Hampir 5 bulan jam ini ku beli, kupakai setiap hari bahkan kadang aku lupa melepas nya sewaktu melepas lelah. Aku hafal bau keringat yang seringkali kuendus tiap kali ku lepaskan ia dari kulitku. 

Tangan kiri ku terasa lebih ringan. Ah, aku lupa memakai nya kali ini. Bukan masalah besar sebenarnya, tapi tetap mengangguku. Aku sudah terbiasa. Biasa tangan kiri ku lebih berat beberapa gram dari pergelangan tangan kanan ku. Biasa melihat sekarang pukul berapa tanpa harus menanyakan atau melihat sekeliling mencari tahu. Biasa mengendus bau keringat ku tepat setelah melepas sang jam dari kulitku.  

Iya aku hanya lupa. Aku hanya tidak terbiasa jika ia tidak ada. Bagi sebagian orang mungkin ini adalah hal yang amat sangat tidak penting. Tapi buat ku penting. Jam ini sudah jadi bagian dariku. 

Kali ini mungkin aku hanya lupa tidak memakainya. Bagaimana jika aku kehilangan nya? Bukan, bukan aku tidak mau mengganti nya dengan yang baru. Tapi aku terlalu malas untuk beradaptasi dengan jam baru. Bagaimana kalau ia ternyata tidak cocok dengan kulitku yang kering? Bagaimana kalau ia tiba-tiba berhenti bekerja karena aku yang terlalu sering berada di bawah terik? Memikirkan nya saja aku sudah malas. 

Aku mungkin bukan penyimpan yang baik. Banyak hal tak beraturan yang malas untuk ku tata. Baik itu di kamarku atau pun di hidupku. Dan mungkin jam ini bukan jam terbaik. Dia juga bukan jam termahal. Tapi aku merasa kita pas satu sama lain. Aku bahkan sampai sekarang belum tau bagaimana mengatur jam ini 10 menit lebih maju dari waktu biasa.

Aku ingin mengutip Paulo Coelho, dia berkata "Tak ada satu hal pun yang sia-sia. Bahkan jam mati pun menunjukkan waktu yg tepat dua kali sehari". Aku setuju. Tapi jam ku bukan jam dengan jarum. Jam ku hanya menampilkan angka secara digital dan numerik untuk menunjukkan.              
Tidak, jam ku tidak hilang. Dia masih ada. Tapi kali ini dia tidak berfungsi. Entah. Hanya kosong yang dia tampilkan. Tak ada jarum. Coelho pasti hanya punya jam analog dengan 3 jarum jam. 

Biarlah. Bukan kah sudah kubilang aku telah terbiasa dengan ada nya ia di pergelangan tangan kiriku? Mungkin sekarang dia sedang tidak berfungsi, tapi setidak nya dia masih tetap ada. Walau kadang ku pikir tak ada guna juga kupakai. 

Sampai nanti saatnya ketika memang harus mencari jam baru atau membawa jam ini ke pusat reparasi. Biarlah saja ia begini. Masih ada walau hanya menunjukkan satu hal. Kosong.